
Banyak calon pemilik kendaraan masih menganggap mobil listrik mahal bukan hanya saat membeli, tetapi juga ketika masuk bengkel. Kekhawatiran ini cukup wajar, terutama karena harga baterai traksi terlihat jauh lebih tinggi dibandingkan komponen mesin biasa. Namun, jika yang dihitung adalah biaya perawatan mobil listrik secara rutin selama beberapa tahun, gambarnya justru bisa berbeda.
Mobil listrik tidak memiliki mesin pembakaran internal yang membutuhkan penggantian oli mesin, busi, filter oli, dan sejumlah komponen mekanis lainnya. Sistem pengereman juga bekerja lebih ringan berkat regenerative braking. Departemen Energi Amerika Serikat menjelaskan bahwa mobil listrik murni membutuhkan perawatan lebih sedikit karena memiliki lebih sedikit komponen bergerak dan lebih sedikit cairan yang harus diganti.
Meski begitu, bukan berarti mobil listrik bebas biaya servis. Ban, kampas rem, cairan tertentu, suspensi, baterai 12 volt, sistem pendingin baterai, hingga pemeriksaan kelistrikan tetap membutuhkan perhatian.
Mengapa Biaya Perawatan Mobil Listrik Bisa Lebih Rendah?
Perbedaan terbesar terdapat pada konstruksi sistem penggerak. Mobil bermesin bensin atau diesel mempunyai banyak komponen yang bergerak dan saling bekerja, mulai dari piston, crankshaft, katup, timing system, pompa oli, sistem pembakaran hingga sistem pembuangan.
Mobil listrik menggunakan baterai tegangan tinggi, inverter atau motor controller, motor listrik, reduction gear, serta sistem manajemen baterai. Jumlah komponen mekanis yang mengalami gesekan jauh lebih sedikit.
Tidak Ada Penggantian Oli Mesin
Ini menjadi salah satu penghematan paling mudah terlihat. Mobil konvensional membutuhkan penggantian oli mesin secara berkala, biasanya mengikuti interval yang ditentukan produsen berdasarkan jarak tempuh atau waktu.
Pada mobil listrik murni, tidak terdapat mesin pembakaran internal sehingga tidak ada oli mesin yang harus diganti. Pemilik tetap perlu memperhatikan cairan lain sesuai rekomendasi pabrikan, tetapi jenis dan frekuensinya berbeda.
Komponen Rem Cenderung Lebih Awet
Mobil listrik umumnya menggunakan regenerative braking. Ketika pengemudi mengurangi kecepatan, motor listrik dapat bekerja sebagai generator dan mengembalikan sebagian energi ke baterai.
Akibatnya, penggunaan rem gesek dapat berkurang. Departemen Energi AS menyebut sistem regenerative braking membuat sistem rem kendaraan listrik umumnya memiliki masa pakai lebih panjang dibandingkan kendaraan konvensional.
Namun, bukan berarti kampas rem bisa diabaikan. Pemeriksaan tetap diperlukan karena kendaraan yang jarang menggunakan rem gesek juga perlu memastikan komponen rem tetap bekerja optimal.
Komponen yang Tetap Harus Dirawat pada Mobil Listrik
Kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap mobil listrik tidak membutuhkan servis. Kenyataannya, kendaraan ini tetap memiliki sejumlah komponen yang mengalami keausan.
Ban dan Sistem Suspensi
Bobot baterai berkapasitas besar dapat membuat sebagian mobil listrik mempunyai bobot kendaraan yang cukup tinggi. Karakter torsi motor listrik yang tersedia sejak awal juga dapat memengaruhi keausan ban apabila pengemudi sering melakukan akselerasi agresif.
Rotasi ban, pemeriksaan tekanan angin, spooring, balancing, shock absorber, ball joint, tie rod, dan komponen suspensi lainnya tetap harus diperiksa sesuai kondisi kendaraan.
Baterai 12 Volt
Selain baterai traksi bertegangan tinggi, mobil listrik tetap memiliki baterai 12 volt untuk berbagai sistem elektronik kendaraan. Komponen ini dapat mengalami penurunan kapasitas seperti baterai 12 volt pada mobil konvensional.
Karena itu, jangan menganggap seluruh persoalan kelistrikan mobil listrik hanya berkaitan dengan baterai traksi. Pemeriksaan baterai 12 volt juga penting dalam perawatan berkala.
Sistem Pendingin Baterai
Beberapa mobil listrik menggunakan sistem pendingin cairan untuk menjaga temperatur baterai dan komponen bertegangan tinggi. Departemen Energi AS juga mencatat bahwa sistem baterai tertentu menggunakan coolant yang membutuhkan pemeriksaan berkala.
Jenis cairan, interval pemeriksaan, dan prosedur penggantian sangat bergantung pada desain kendaraan. Pemilik sebaiknya mengikuti buku servis, bukan menggunakan jadwal mobil konvensional sebagai patokan.
Bagaimana dengan Biaya Perawatan Mobil Konvensional?
Mobil bermesin bensin atau diesel mempunyai kebutuhan servis yang lebih banyak karena mesin pembakaran internal menghasilkan panas, gesekan, dan residu selama bekerja.
Dalam penggunaan normal, pemilik harus memperhitungkan penggantian oli mesin, filter oli, filter udara, busi untuk mesin bensin tertentu, serta pemeriksaan berbagai sistem mesin. Pada kilometer tertentu, beberapa kendaraan juga membutuhkan penggantian oli transmisi, coolant, belt, atau komponen lain.
Semakin tua kendaraan, potensi biaya perawatan biasanya meningkat karena komponen yang mengalami keausan mulai membutuhkan penggantian. Contohnya adalah engine mounting, sistem pendingin, alternator, starter motor, fuel pump, sensor, sistem AC, dan berbagai komponen mekanis.
Mobil listrik tidak sepenuhnya terbebas dari risiko tersebut, tetapi jenis komponennya berbeda dan jumlah komponen mekanis penggeraknya lebih sedikit.
Perbandingan Biaya Perawatan dalam Penggunaan Harian
Misalnya terdapat dua mobil dengan kelas dan harga yang relatif berdekatan. Mobil konvensional membutuhkan servis berkala dengan penggantian oli dan filter, sedangkan mobil listrik lebih banyak melakukan pemeriksaan sistem kelistrikan, rem, ban, suspensi, serta kondisi baterai.
Dalam jangka pendek, selisih biaya servis dapat terasa tidak terlalu besar apabila mobil konvensional masih baru. Namun, penghematan mobil listrik dapat semakin terlihat karena beberapa item rutin yang ada pada mesin pembakaran tidak lagi diperlukan.
Perlu dibedakan antara biaya perawatan dan biaya perbaikan. Servis berkala mobil listrik cenderung lebih sederhana, tetapi apabila terjadi kerusakan pada komponen bertegangan tinggi, biaya perbaikannya bisa signifikan.
Baterai Menjadi Komponen yang Paling Dikhawatirkan
Harga baterai traksi memang menjadi salah satu faktor yang membuat calon pembeli berpikir panjang. Namun, pemilik mobil listrik baru tidak seharusnya langsung memasukkan penggantian satu paket baterai sebagai biaya servis rutin.
Produsen memberikan garansi baterai dengan durasi yang panjang. Sebagai contoh, Hyundai Indonesia mencantumkan garansi high-voltage EV battery selama 8 tahun atau 160.000 km, mana yang tercapai lebih dahulu.
BYD Indonesia juga mencantumkan garansi baterai traksi selama 8 tahun atau 160.000 km dengan ketentuan State of Health tertentu, sementara garansi kendaraan berlaku 6 tahun atau 150.000 km.
Artinya, calon pembeli sebaiknya tidak hanya melihat harga mobil. Perhatikan pula durasi garansi baterai, batas kilometer, ketentuan klaim, cakupan komponen, dan kewajiban melakukan servis di jaringan resmi.
Biaya Servis Bisa Berbeda Antar Merek
Tidak ada satu angka yang bisa digunakan untuk semua mobil listrik. Jadwal servis dan harga komponen ditentukan oleh masing-masing produsen.
BYD, misalnya, mencantumkan pemeriksaan berkala setiap 12 bulan atau 20.000 km untuk sejumlah model, dengan catatan model tertentu mempunyai pemeriksaan awal 3 bulan atau 5.000 km. Pemeriksaan mencakup baterai, sistem kelistrikan, motor dan komponen penting lainnya.
Wuling juga menawarkan program perawatan berbeda pada model tertentu. Cloud EV, misalnya, memiliki program Extensive Free Maintenance yang mencakup perawatan berkala sesuai buku servis hingga 15,5 tahun atau 155.000 km, dengan syarat dan ketentuan program yang berlaku.
Karena itu, jangan menjadikan pengalaman servis satu merek sebagai patokan mutlak untuk seluruh mobil listrik.
Mana yang Lebih Hemat dalam Jangka Panjang?
Jika hanya melihat perawatan rutin, mobil listrik umumnya memiliki potensi biaya lebih rendah dibandingkan mobil bermesin konvensional. Penghematan berasal dari berkurangnya kebutuhan penggantian oli mesin, minimnya komponen mesin bergerak, serta penggunaan rem gesek yang lebih rendah.
Namun, total biaya kepemilikan kendaraan tidak hanya ditentukan oleh servis. Harga pembelian, biaya listrik atau bahan bakar, pajak, asuransi, ban, depresiasi, biaya charging, serta potensi perbaikan harus dihitung bersama.
Untuk penggunaan harian dengan jarak tempuh tinggi, perbedaan biaya operasional dapat menjadi semakin menarik. Sebaliknya, jika seseorang jarang menggunakan mobil dan sangat sensitif terhadap harga pembelian awal, mobil konvensional bekas yang kondisinya sehat bisa saja lebih sesuai.
Tips Menghitung Biaya Sebelum Membeli
Sebelum memilih mobil listrik atau mobil konvensional, buat simulasi minimal untuk lima tahun. Catat biaya servis berkala, ban, rem, energi, asuransi, pajak, serta estimasi depresiasi.
Periksa juga buku servis kendaraan yang hendak dibeli. Jangan hanya bertanya, “Servisnya murah atau tidak?” Tanyakan secara spesifik interval servis, item yang diganti, harga suku cadang, biaya jasa, garansi baterai, serta prosedur ketika terjadi gangguan pada sistem tegangan tinggi.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah jaringan bengkel. Mobil dengan biaya servis murah tetapi sulit mendapatkan suku cadang di kota tempat tinggal bisa menjadi kurang praktis.
Pada akhirnya, biaya perawatan mobil listrik memang cenderung lebih ringan untuk servis rutin, tetapi bukan berarti setiap kerusakannya murah. Strategi terbaik adalah memahami struktur biaya kendaraan secara keseluruhan dan memilih model dengan dukungan purnajual, garansi, serta jaringan servis yang jelas.