
Nama Bugatti Divo bukan dibuat untuk memecahkan rekor kecepatan lurus, tetapi untuk melakukan sesuatu yang justru jarang jadi fokus di dunia Bugatti: menikung secepat mungkin. Mobil ini lahir sebagai interpretasi berbeda dari Bugatti Chiron, dengan karakter yang lebih ringan secara rasa, lebih agresif di lintasan, dan jauh lebih “tajam” di setiap arah gerakan.
Divo terasa seperti Bugatti yang dilepaskan dari kebiasaan top speed, lalu diarahkan penuh ke dunia handling dan downforce, menjadikannya salah satu varian paling unik dalam sejarah Bugatti modern.
Latar Belakang: Bugatti yang Mengubah Fokus
Bugatti Divo dinamai dari Albert Divo, pembalap Bugatti yang dikenal di era awal motorsport. Nama ini sudah memberi petunjuk bahwa mobil ini bukan tentang kecepatan lurus, tetapi tentang kelincahan di jalan berliku.
Berbeda dari Chiron yang mengejar stabilitas di 400 km/jam, Divo justru dirancang untuk sirkuit teknikal seperti jalan pegunungan atau track berliku. Filosofi ini membuatnya menjadi eksperimen penting bagi Bugatti untuk menunjukkan bahwa platform W16 tidak hanya bisa menjadi simbol top speed, tetapi juga alat presisi di tikungan.
Produksinya sangat terbatas, membuat Bugatti Divo terasa seperti proyek eksklusif yang ditujukan untuk kolektor yang menginginkan sesuatu yang berbeda dari Chiron.
Desain Eksterior: Lebih Tajam, Lebih Ekspresif
Sekilas, Bugatti Divo masih membawa DNA Chiron, tetapi setiap panelnya berubah menjadi lebih agresif dan fungsional. Front fascia dibuat lebih tajam dengan intake udara besar yang membantu pendinginan sekaligus meningkatkan downforce di bagian depan.
Lampu khas Bugatti tetap dipertahankan, tetapi seluruh proporsi bodi terlihat lebih “terpotong” dan berotot. Garis desain tidak lagi mengalir lembut seperti Chiron, melainkan lebih tegas, seolah setiap bagian mobil didesain untuk tujuan aerodinamika spesifik.
Bagian samping terlihat lebih dinamis dengan saluran udara yang lebih besar, membantu mengarahkan aliran udara ke bagian belakang mobil. Sementara itu, bagian belakang menjadi pusat transformasi dengan diffuser besar dan sayap yang lebih dominan.
Aerodinamika: Raja Tikungan, Bukan Lurus
Jika Chiron adalah raja jalan lurus, maka Bugatti Divo adalah spesialis tikungan. Bugatti meningkatkan downforce secara signifikan dibanding Chiron dengan mengorbankan kecepatan maksimum.
Sayap belakang fixed besar bukan hanya elemen visual, tetapi komponen penting yang menciptakan tekanan ke bawah untuk menjaga stabilitas di tikungan cepat. Diffuser belakang dirancang untuk mempercepat aliran udara di bawah mobil, mengurangi turbulensi, dan meningkatkan grip.
Air curtain di bagian depan juga membantu mengarahkan udara melewati roda, mengurangi drag sekaligus meningkatkan stabilitas saat mobil masuk ke tikungan dengan kecepatan tinggi.
Hasilnya adalah mobil yang lebih “menempel” ke aspal dibanding “meluncur di udara”, sebuah perubahan karakter yang sangat signifikan dibanding Chiron.
Mesin W16: Tetap Brutal, Tapi Lebih Terkontrol
Di balik karakter barunya, Divo masih menggunakan mesin legendaris Bugatti Chiron yaitu W16 8.0 liter quad turbo. Tenaga besar tetap hadir, tetapi distribusinya dibuat lebih responsif untuk kebutuhan akselerasi keluar tikungan.
Mesin ini tetap menghasilkan sekitar 1.500 horsepower, namun karakter pengiriman tenaga terasa lebih siap untuk perubahan arah dibanding fokus top speed. Turbo lag yang sangat kecil membuat tenaga terasa selalu tersedia di berbagai kondisi.
Walaupun basis mesinnya sama, tuning ECU dan karakter transmisi membuat Divo terasa lebih “gesit” dibanding Chiron.
Performa: Lebih Cepat di Lintasan daripada di Garis Lurus
Bugatti Divo sebenarnya tidak dirancang untuk memecahkan rekor kecepatan tertinggi. Bahkan dibanding Chiron, top speed-nya lebih rendah karena setelan aerodinamis yang lebih agresif.
Namun di sirkuit berliku, mobil ini justru lebih cepat. Downforce besar membuatnya mampu menjaga kecepatan tinggi di tikungan tanpa kehilangan stabilitas. Ini membuat waktu lap di lintasan teknis bisa lebih baik dibanding Chiron dalam kondisi tertentu.
Akselerasi tetap brutal, tetapi karakter utamanya adalah konsistensi di lintasan teknikal dan kemampuan menjaga ritme kecepatan di jalan berliku.
Handling: Perubahan Karakter yang Signifikan
Divo terasa jauh lebih “hidup” dibanding Chiron saat masuk tikungan. Steering lebih responsif, body roll lebih minim, dan grip lebih kuat di kecepatan tinggi.
Suspensi disetel lebih kaku untuk mendukung karakter track-focused, tetapi tetap mempertahankan sedikit kenyamanan agar mobil masih bisa digunakan di jalan umum.
Bugatti Divo memberi sensasi bahwa mobil ini selalu siap berubah arah tanpa ragu, sesuatu yang jarang terasa pada hypercar berfokus top speed.
Transmisi: Tetap Halus Tapi Lebih Agresif
Transmisi dual clutch pada Divo tetap mempertahankan karakter halus khas Bugatti, tetapi dengan mapping yang lebih agresif. Perpindahan gigi terasa lebih cepat dan responsif, terutama saat mode sport aktif.
Setiap shift menjaga mesin tetap berada di zona tenaga optimal, memberikan akselerasi yang konsisten tanpa kehilangan momentum saat keluar tikungan.
Interior: Familiar, Tapi Lebih Fokus Pengemudi
Masuk ke kabin Divo, layout masih sangat mirip dengan Chiron, tetapi suasananya terasa lebih fokus. Material premium seperti kulit dan aluminium tetap mendominasi, namun ada nuansa lebih “driver oriented”.
Posisi duduk rendah dan visibilitas tetap mempertahankan kenyamanan khas Bugatti, tetapi perhatian utama tetap pada pengalaman berkendara.
Cluster instrumen menampilkan informasi performa secara detail, termasuk data handling, G-force, dan mode aerodinamika aktif.
Tidak ada distraksi berlebihan—semua diarahkan untuk performa.
Filosofi: Bugatti Versi Agresif di Tikungan
Bugatti Divo menunjukkan sisi lain dari Bugatti yang biasanya dikenal sebagai pembuat mobil top speed.
Di sini, Bugatti membuktikan bahwa platform Chiron tidak hanya bisa menjadi raja lurus, tetapi juga bisa diubah menjadi senjata tikungan yang sangat presisi.
Divo adalah bukti bahwa Bugatti mampu menciptakan karakter yang berbeda tanpa harus mengganti identitas utama mesin W16.
Posisi di Dunia Hypercar
Divo berada di kategori yang unik karena tidak fokus pada top speed seperti Koenigsegg atau SSC, dan tidak sepenuhnya track-only seperti McLaren P1 GTR.
Mobil ini lebih seperti “Chiron versi atlet sirkuit”, dengan keseimbangan yang sengaja digeser ke arah handling tanpa menghilangkan kemewahan dan eksklusivitas khas Bugatti.
Karakter yang Tidak Bisa Digantikan
Bugatti Divo menjadi bukti bahwa bahkan hypercar tercepat di dunia pun masih bisa diubah karakternya secara drastis tanpa mengganti mesin.
Ini bukan sekadar versi lain dari Chiron, tetapi reinterpretasi total tentang bagaimana sebuah Bugatti bisa terasa di tikungan tajam dan jalan berliku, sekaligus menunjukkan bahwa kecepatan bukan hanya soal garis lurus, tetapi juga soal kontrol di setiap sudut jalan.