
Ferrari Roma hadir sebagai sebuah paradoks yang memukau di tengah jajaran supercar modern yang semakin agresif dan futuristik. Di tahun 2026, ketika banyak produsen otomotif berlomba-lomba menciptakan desain yang penuh dengan lubang udara tajam dan sayap raksasa, Ferrari justru menengok ke belakang, ke era emas La Nuova Dolce Vita pada tahun 1950-an dan 60-an. Roma adalah surat cinta untuk keanggunan abadi Roma masa lalu, namun dibekali dengan teknologi mesin dan sasis paling mutakhir dari Maranello. Ia adalah manifestasi dari filosofi bahwa sebuah Ferrari tidak selalu harus terlihat seperti jet tempur; terkadang, ia bisa terlihat seperti sebuah puisi yang bergerak.
Secara desain eksterior, Ferrari Roma adalah salah satu mobil paling cantik yang pernah diproduksi dalam dua dekade terakhir. Garis-garis bodinya sangat bersih dan mengalir, menghindari penggunaan komponen aerodinamika yang mencolok mata. Bagian depannya didominasi oleh gril berlubang minimalis yang menyatu dengan bodi, menciptakan tampilan monolitik yang elegan. Lampu depan LED yang ramping memberikan kesan tajam namun tetap halus. Di bagian belakang, desainer Ferrari membuang lampu bulat tradisional dan menggantinya dengan empat bilah cahaya horizontal yang menyatu dengan siluet bahu mobil yang lebar dan berotot.
Namun, di balik keanggunan eksteriornya, terdapat kecanggihan aerodinamika yang tersembunyi. Ferrari menggunakan sayap belakang aktif yang terintegrasi di bawah kaca belakang. Sayap ini memiliki tiga posisi: Low Drag, Medium Downforce, dan High Downforce. Hebatnya, sayap ini hanya akan terbuka saat mobil mencapai kecepatan tertentu atau mendeteksi kebutuhan akan stabilitas ekstra, sehingga saat parkir di depan kafe mewah di Milan atau melaju santai di jalanan kota, garis desainnya tetap terjaga kemurniannya tanpa gangguan sayap yang menonjol.
Jantung mekanis Ferrari Roma adalah mesin V8 3.9-liter twin-turbocharged yang telah memenangkan penghargaan International Engine of the Year selama empat tahun berturut-turut. Di tahun 2026, mesin ini telah disempurnakan untuk memberikan tenaga sebesar 620 horsepower dan torsi 760 Nm. Salah satu keunggulan mesin ini adalah fitur Variable Boost Management, sebuah perangkat lunak yang mengatur pengiriman torsi berdasarkan gigi yang dipilih. Hal ini membuat dorongan tenaga terasa seperti mesin naturally aspirated yang terus meningkat seiring bertambahnya putaran mesin, memberikan sensasi akselerasi yang tak berujung tanpa ada gejala turbo lag yang mengganggu.
Tenaga tersebut disalurkan melalui transmisi kopling ganda 8-percepatan yang sama dengan yang digunakan pada supercar hybrid SF90 Stradale. Transmisi ini tidak hanya lebih ringan 6 kg dari versi 7-percepatan sebelumnya, tetapi juga memberikan perpindahan gigi yang lebih cepat dan halus. Hasilnya adalah performa yang sangat serius: Ferrari Roma mampu melesat dari 0 hingga 100 km/jam dalam waktu 3,4 detik dan mencapai 200 km/jam hanya dalam 9,3 detik, dengan kecepatan puncak yang melampaui 320 km/jam. Angka-angka ini membuktikan bahwa di balik gaun mewahnya, Roma tetaplah seekor predator sirkuit yang haus kecepatan.
Masuk ke dalam kabin, pengemudi dan penumpang disambut oleh konsep "Dual Cockpit" yang revolusioner. Interior Roma dirancang untuk membagi ruang antara pengemudi dan penumpang secara hampir simetris, menciptakan pengalaman yang inklusif bagi pendamping perjalanan. Kualitas materialnya sangat luar biasa, dengan perpaduan kulit Frau, Alcantara, dan aluminium yang dikerjakan dengan tangan. Takometer analog yang ikonik kini telah digantikan oleh layar digital melengkung 16 inci yang sangat jernih, mampu menampilkan navigasi dan seluruh parameter kendaraan dalam grafis yang memanjakan mata.
Roda kemudi Roma juga telah diperbarui sepenuhnya dengan teknologi Haptic Control. Hampir seluruh fungsi kendaraan, mulai dari lampu sein, wiper, hingga pengaturan suara, dikendalikan melalui tombol sentuh pada kemudi. Di tengah dasbor, terdapat layar sentuh vertikal 8,4 inci yang mengontrol sistem hiburan dan AC. Bahkan, tersedia layar opsional di sisi penumpang yang memungkinkan mereka melihat kecepatan, putaran mesin, dan navigasi, sehingga mereka merasa benar-benar terlibat dalam perjalanan, layaknya seorang co-driver di ajang reli.
Handling Ferrari Roma adalah tentang keseimbangan antara kenyamanan grand touring dan ketajaman supercar. Berkat sistem Side Slip Control (SSC) versi 6.0, Roma memungkinkan pengemudi untuk mengeksplorasi batas kemampuan ban tanpa rasa takut kehilangan kendali. Sistem ini bekerja secara harmonis dengan E-Diff dan F1-Trac untuk memberikan traksi maksimal. Meskipun Roma adalah sebuah GT, ia terasa sangat ringan dan lincah saat melewati jalanan pegunungan yang berkelok. Kemudinya sangat cepat dan presisi, memberikan umpan balik yang jujur tentang apa yang terjadi di bawah ban depan Michelin Pilot Sport 4S yang digunakannya.
Ferrari juga melengkapi Roma dengan manettino lima posisi: Wet, Comfort, Sport, Race, dan ESC-Off. Ini adalah pertama kalinya sebuah Ferrari GT mendapatkan mode Race, menunjukkan bahwa Ferrari sangat percaya diri dengan kemampuan dinamis mobil ini di lintasan balap. Dalam mode Comfort, suspensi magnetoreologisnya mampu menyerap ketidakteraturan aspal dengan sangat baik, menjadikannya salah satu Ferrari yang paling nyaman untuk dikendarai sehari-hari atau untuk perjalanan lintas benua.
Kepraktisan juga menjadi nilai tambah bagi Roma. Sebagai mobil dengan konfigurasi "2+", ia memiliki kursi belakang kecil yang sangat berguna untuk meletakkan barang tambahan atau tas kerja, meskipun ruang kaki tersebut terlalu sempit untuk orang dewasa dalam perjalanan jauh. Kapasitas bagasi belakangnya pun cukup kompetitif di kelasnya, mampu menampung dua tas kabin standar. Hal ini mempertegas posisi Roma sebagai Ferrari yang dirancang untuk dinikmati sesering mungkin, bukan hanya sekadar disimpan di garasi untuk acara khusus.
Di tahun 2026, Ferrari Roma juga menjadi simbol komitmen merek ini terhadap tradisi di tengah gempuran tren hibrida dan elektrik. Meskipun Ferrari mulai merambah dunia elektrik, Roma tetap setia pada filosofi mesin pembakaran internal murni yang memiliki suara dan karakter yang tidak bisa digantikan. Suara mesin V8-nya telah dirancang ulang dengan menghapus silencer belakang dan menggunakan katup bypass baru, menghasilkan nada yang lebih dalam dan kaya pada putaran rendah, serta pekikan tajam saat mendekati garis merah.
Secara keseluruhan, Ferrari Roma adalah pencapaian yang luar biasa karena ia berhasil menghidupkan kembali konsep Eleganza tanpa kehilangan performa Sportivita. Ia adalah mobil bagi mereka yang ingin tampil berkelas tanpa harus terlihat mencolok, namun memiliki kekuatan yang mampu mempermalukan banyak mobil sport di jalanan. Ia adalah jembatan antara masa lalu yang romantis dan masa depan yang teknologis.
Ferrari Roma bukan sekadar kendaraan untuk berpindah tempat; ia adalah instrumen emosional. Ia mengajak Anda untuk kembali menikmati seni mengemudi, merasakan setiap perpindahan gigi, mendengarkan setiap nada mesin, dan mengagumi setiap lengkungan bodinya saat terkena sinar matahari sore. Di dunia otomotif yang semakin didikte oleh angka dan efisiensi dingin, Roma tetap berdiri sebagai pengingat bahwa keindahan dan jiwa mekanis tetap memiliki tempat yang istimewa. Ia adalah Ferrari dalam bentuknya yang paling murni: anggun di luar, namun liar di dalam. Sebuah legenda modern yang akan terus dikenang sebagai salah satu desain terbaik dalam sejarah panjang kuda jingkrak dari Maranello.