
Ajang World Rally Championship (WRC) dekade 1990-an dikenal sebagai salah satu era paling brutal dan berbahaya dalam sejarah balap tanah. Di antara seluruh kalender balapan, Safari Rally Kenya adalah neraka yang sesungguhnya karena menyajikan rute ribuan kilometer melintasi sabana Afrika yang dipenuhi batu besar, kubangan lumpur sedalam pinggang, dan debu pekat yang siap menghancurkan mesin mobil. Pada tahun 1993, ketika tim-tim pabrikan raksasa menurunkan mobil-mobil monster bertenaga besar seperti Toyota Celica GT-Four dan Lancia Delta HF Integrale, dunia dibuat terperangah oleh keputusan gila dari Noriyuki Koseki, pendiri Subaru Technica International (STI). Ia memutuskan untuk mendaftarkan tiga unit kei car mungil, Subaru Vivio RX-R, untuk bertarung di kelas utama Group A Safari Rally.
Aksi nekat ini langsung memicu tawa dan skeptisisme dari para pengamat otomotif dunia, yang menganggap Subaru Vivio layaknya seekor semut yang mencoba menantang kawanan gajah di habitat aslinya. Di atas kertas, Vivio RX-R memang dibekali mesin 4-silinder supercharger dan sistem penggerak roda All-Wheel Drive (AWD). Namun, melihat ukurannya yang mikro dengan roda kecil berdiameter 13 inci, banyak orang memprediksi mobil ini bahkan tidak akan mampu bertahan melintasi rute hari pertama. Di balik kemudi salah satu Vivio tersebut duduk pembalap muda yang kelak menjadi legenda dunia, Colin McRae, ditemani oleh Patrick Njiru dan Masashi Ishida. Alih-alih tampil sebagai pelengkap, kehadiran tim Vivio justru langsung memberikan kejutan besar sejak bendera start dikibarkan.
Bobot Vivio yang hanya berkisar 700 kilogram ternyata menjadi senjata rahasia yang mematikan. Di saat mobil-mobil reli berukuran besar rawan terperosok dan terjebak di kubangan lumpur Afrika yang dalam, Subaru Vivio dengan kelincahannya justru mampu melompati dan melintasi rintangan tersebut dengan sangat mudah. Colin McRae bahkan sempat membuat geger jagat WRC karena berhasil memacu si kecil Vivio hingga menembus posisi ke-4 secara keseluruhan pada awal-awal etape, menempel ketat mobil-mobil Group A yang memiliki tenaga tiga kali lipat lebih besar. Gaya berkendara McRae yang agresif dan tak kenal takut membuat penonton lokal Afrika bersorak histeris setiap kali melihat mobil sekecil kotak sepatu itu terbang melompati gundukan tanah sabana.
Meskipun pada akhirnya Colin McRae harus menyerah dan pensiun di pertengahan lomba akibat kerusakan suspensi yang parah setelah menghantam batu besar, pembuktian Subaru Vivio belum berakhir. Pembalap lokal Kenya, Patrick Njiru, berhasil menjaga ritme berkendaranya dengan sangat konsisten hingga garis finis. Secara luar biasa, Njiru berhasil membawa Subaru Vivio miliknya finis di posisi ke-12 secara keseluruhan (overall). Keberhasilan sebuah mobil kota berkapasitas 660 cc menaklukkan salah satu reli paling ganas di muka bumi ini langsung dicatat sebagai salah satu kisah underdog paling legendaris dan gila sepanjang sejarah motorsport dunia.