
Bagi kamu yang pernah mencoba mengendarai mobil-mobil klasik lansiran tahun 1970-an atau angkutan kota generasi tua, kamu pasti tahu betapa melelahkannya perjuangan fisik saat hendak memarkirkan kendaraan tersebut di ruang sempit. Tanpa adanya teknologi pembantu, memutar lingkar kemudi saat posisi mobil diam atau berjalan lambat membutuhkan kekuatan otot lengan yang luar biasa besar karena setir akan terasa sangat berat bagai terkunci besi.
Beruntung, para insinyur otomotif global berhasil menciptakan sebuah sistem penunjang kenyamanan yang kini menjadi peranti wajib di seluruh mobil modern, yaitu Power Steering. Sederhananya, sistem ini bertugas sebagai asisten pengganda tenaga yang bertugas meringankan beban putaran setir. Bersama dengan komponen mesin mobil yang menyalurkan daya, bagian bagian mobil yang satu ini menjamin kamu bisa memutar arah roda seberat apa pun hanya dengan menggunakan satu jari saja. Yuk, kita pelajari bersama dualisme teknologi power steering yang beredar di pasaran saat ini serta cara tepat merawatnya.
Mengenal Sistem Hidrolis Konvensional yang Mengandalkan Tekanan Fluida
Sistem power steering generasi pertama yang mendominasi industri otomotif selama beberapa dekade adalah jenis Hydraulic Power Steering (HPS). Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan tekanan cairan atau oli khusus penambah tenaga (power steering fluid).
Jantung penggerak dari sistem HPS ini adalah sebuah pompa hidrolis (vane pump) yang dipasang menempel pada blok mesin dan digerakkan langsung oleh putaran poros engkol menggunakan sabuk karet v-belt. Saat mesin mobil hidup, pompa ini akan terus berputar untuk menyedot dan menekan oli bertekanan tinggi menuju kotak roda gigi kemudi (steering rack gear).
Di dalam steering rack tersebut terdapat katup kontrol pintar (rotary valve) dan sebuah piston hidrolis. Ketika kamu memutar setir ke arah kanan, katup akan mengarahkan aliran oli bertekanan tinggi untuk mendorong sisi kiri piston, sehingga roda depan akan membelok ke kanan dengan sangat ringan. Keunggulan utama sistem hidrolis ini adalah kemampuannya dalam memberikan rasa berkendara (steering feel) yang sangat natural dan komunikatif ke tangan pengemudi, membuatmu bisa merasakan tekstur permukaan aspal jalanan dengan akurat.
Lompatan Teknologi Elektrik yang Jauh Lebih Irit Bahan Bakar
Seiring dengan tuntutan efisiensi bensin yang semakin ketat, industri otomotif modern kini mulai meninggalkan sistem hidrolis dan beralih menggunakan teknologi Electric Power Steering (EPS). Sesuai namanya, sistem ini sepenuhnya memotong jalur sirkulasi oli dan pompa mekanis, lalu menggantinya dengan motor listrik elektrik pintar.
Sistem EPS bekerja menggunakan bantuan sensor sudut kemudi (torque sensor) yang tertanam di batang setir. Ketika kamu mulai memutar setir, sensor ini akan mendeteksi seberapa besar sudut putaran dan kekuatan tanganmu secara instan. Data tersebut kemudian dikirimkan ke komputer khusus transmisi kemudi.
Komputer lalu akan memerintahkan sebuah motor listrik mini (bisa terpasang di batang setir atau di bagian bawah dekat steering rack) untuk berputar memberikan bantuan daya dorong mekanis searah dengan putaran setirmu. Karena tidak lagi membebani putaran komponen mesin mobil menggunakan sabuk v-belt seperti pada sistem hidrolis, penggunaan teknologi EPS ini terbukti mampu memangkas konsumsi bahan bakar mobil menjadi jauh lebih irit serta mereduksi bobot kendaraan secara keseluruhan.
Sinyal Darurat Power Steering Mulai Rusak yang Haram Diabaikan
Meskipun kedua teknologi kemudi ini didesain untuk memiliki durabilitas yang sangat tinggi, keduanya tetap memiliki titik lelah yang bisa membahayakan fitur keselamatan mobil jika dibiarkan rusak. Pada sistem hidrolis (HPS), musuh utamanya adalah kebocoran sil karet.
Jika kamu mendapati adanya tetesan oli berwarna kemerahan di lantai garasi rumah tepat di bawah kolong mesin depan, segeralah periksa tabung reservoir minyak power steering kamu. Minyak yang habis akibat bocor akan membuat pompa hidrolis bekerja kering tanpa pelumasan, memicu suara dengungan kasar yang sangat berisik saat setir diputar serta membuat setir mendadak terasa sangat berat.
Sementara pada sistem elektrik (EPS), musuh utamanya adalah air banjir dan masalah kelistrikan. Jika mobil sering menerjang genangan air banjir yang cukup dalam, air bisa menyusup masuk merusak motor listrik EPS yang letaknya berada di bawah kolong mobil. Tanda awal kerusakan EPS ditandai dengan menyalanya lampu indikator peringatan berlogo kemudi stir disertai huruf "EPS" berwarna kuning di dasbor, yang diikuti dengan hilangnya bantuan daya elektrik secara total sehingga setir mobil mendadak terasa sangat kaku saat bermanuver.
Tips Sederhana Merawat Sistem Kemudi Agar Awet Berumur Panjang
Merawat sistem power steering sebenarnya sangat berkaitan erat dengan kebiasaan mengemudi kita sehari-hari di jalan raya. Salah satu kebiasaan buruk yang paling sering merusak sistem kemudi, baik jenis hidrolis maupun elektrik, adalah kebiasaan memutar setir hingga mentok ke arah kanan atau kiri dalam jangka waktu yang lama saat posisi mobil diam (misalnya saat sedang bermanuver parkir pararel).
Memutar setir hingga bunyi "jeduk" mentok akan menciptakan tekanan hidrolis yang luar biasa ekstrem pada sistem HPS yang bisa membuat selang karet pecah, serta memicu lonjakan arus listrik raksasa pada motor EPS yang membuatnya cepat panas dan terbakar.
Oleh karena itu, biasakan untuk selalu menyisakan sedikit ruang (jangan sampai mentok penuh) saat memutar setir, dan pastikan mobil dalam kondisi sedikit bergerak maju atau mundur saat kamu ingin membelokkan arah roda. Khusus untuk pemilik sistem hidrolis, lakukan penggantian minyak power steering secara rutin setiap kelipatan 40.000 kilometer demi menjaga kebersihan sistem dari gram-gram besi. Dengan menjaga perilaku mengemudi yang halus, sistem kemudi mobil kesayanganmu akan selalu bekerja dengan prima, menyajikan kelincahan bermanuver yang ringan, nyaman, dan aman di setiap jengkal perjalanan.