
Bagi para penggemar reli dunia, nama Subaru selalu identik dengan sedan biru ikonik Impreza WRX yang melesat kencang membelah kepulan debu. Namun, jauh sebelum era keemasan Impreza dimulai, Subaru Technica International (STI) pernah melakukan sebuah eksperimen paling gila dan berani dalam sejarah Kejuaraan Reli Dunia (WRC). Pada tahun 1993, pabrikan asal Jepang ini mendaftarkan sebuah mobil kota berskala mikro (kei car) untuk bertarung di salah satu ajang reli paling kejam dan menyiksa di muka bumi: Safari Rally Kenya. Mobil nekat tersebut tidak lain adalah Subaru Vivio Supercharger.
Langkah Subaru menurunkan Vivio di ajang Safari Rally kelas Group A (A5) saat itu dipandang sebelah mata oleh banyak pihak. Safari Rally Kenya terkenal dengan trek tanahnya yang penuh batu cadas, kubangan lumpur sedalam bemper, cuaca ekstrem, serta rintangan satwa liar yang siap menghancurkan mobil apa pun. Menurunkan mobil mini berukuran saku dengan mesin berkapasitas hanya 660cc terdengar seperti sebuah misi bunuh diri teknis. Namun, bagi Noriyuki Koseki (pendiri STI), proyek ini adalah panggung pembuktian mutlak bahwa sistem penggerak empat roda permanen (All-Wheel Drive) dan rekayasa sasis kompak milik Subaru memiliki ketangguhan yang tak tertandingi, terlepas dari seberapa kecil dimensi kendaraannya.
Untuk merealisasikan misi mustahil ini, Subaru menyiapkan tiga unit spek kompetisi berbasis sasis Vivio AWD. Sektor dapur pacu mengandalkan mesin Clover Engine EN07X 4-silinder Supercharger yang telah dioptimalkan dayanya, dipadukan dengan girboks manual close-ratio berkekuatan tinggi. Untuk menjinakkan ganasnya medan Afrika, suspensi independen Vivio diperkuat menggunakan komponen berspesifikasi kompetisi tangguh, tangki bahan bakar ekstra besar ditanam di kabin belakang, serta pemasangan pipa pelindung bemper depan (bullbar) yang kokoh untuk mengantisipasi benturan. Keseriusan Subaru kian terbukti dengan ditunjuknya para pereli papan atas untuk mengemudikannya, termasuk talenta muda berbakat yang kelak menjadi legenda dunia, Colin McRae, bersama dengan Patrick Njiru dan Masashi Ishida.
Saat bendera start dikibarkan di Nairobi, Subaru Vivio langsung menciptakan sensasi yang menghebohkan jagat otomotif dunia. Di tangan Colin McRae yang terkenal dengan gaya mengemudi agresif tanpa rasa takut, roket saku mini berkode sasis "AWD" ini melesat luar biasa lincah di sela-sela mobil reli raksasa lainnya. Keunggulan bobot Vivio yang super ringan membuatnya mampu melompati gundukan batu dan melewati trek pasir hisap Afrika dengan sangat mudah tanpa terperosok. Bahkan, dalam beberapa etape awal (special stage), Colin McRae sempat mencatatkan waktu fantastis yang menempatkan Vivio mini ini di peringkat kedua secara keseluruhan, menempel ketat monster reli Toyota Celica GT-Four yang bertenaga jauh lebih besar.
Meskipun pada akhirnya mobil yang dikemudikan Colin McRae terpaksa menyudahi balapan lebih awal (retire) karena mengalami kerusakan fatal pada suspensi depan setelah menghantam lubang raksasa dalam kecepatan tinggi, misi pembuktian Subaru sukses besar. Unit Vivio yang dikemudikan oleh pembalap lokal kawakan, Patrick Njiru, berhasil bertahan dari siksaan ribuan kilometer trek Afrika hingga menyentuh garis finish. Njiru sukses membawa Subaru Vivio mengunci posisi ke-12 secara keseluruhan (Overall) sekaligus menjuarai kelas Group A5. Keberhasilan menaklukkan medan paling brutal di dunia ini menempatkan Subaru Vivio di posisi terhormat dalam buku sejarah otomotif global, membuktikan bahwa mobil berwajah imut pun sanggup memancarkan taring performa sejati khas DNA juara dunia Subaru.