Sejarah Mercedes-Benz X-Class: Satu-satunya Pikap Mewah yang Singgah Sebentar - Mobil.id | Mobil.id

Sejarah Mercedes-Benz X-Class: Satu-satunya Pikap Mewah yang Singgah Sebentar


HomeBlog

Mercedes Benz
Sejarah Mercedes-Benz X-Class: Satu-satunya Pikap Mewah yang Singgah Sebentar
Penulis 7

Dunia otomotif dikejutkan ketika raksasa Jerman, Mercedes-Benz, mengumumkan niatnya untuk memasuki segmen kendaraan komersial ringan alias pikap kabin ganda (double cabin). Selama puluhan tahun, Mercedes-Benz dikenal sebagai simbol kemewahan sedan dan ketangguhan SUV kelas atas melalui jajaran G-Class. Namun, pada Juli 2017 di Cape Town, Afrika Selatan, lahirlah Mercedes-Benz X-Class (W470).

Kehadirannya bukan sekadar menambah portofolio produk, melainkan upaya menciptakan ceruk pasar baru: Pikap Premium. Sayangnya, ambisi besar ini harus terbentur realita pasar yang keras, membuat masa produksinya hanya bertahan kurang dari tiga tahun.

Ambisi Menembus Batas Gaya Hidup

Latar belakang penciptaan X-Class didasari oleh tren global di mana mobil pikap tidak lagi sekadar menjadi "kuda beban" di tambang atau perkebunan. Di pasar seperti Australia, Afrika Selatan, Amerika Latin, dan sebagian Eropa, pikap mulai bertransformasi menjadi kendaraan gaya hidup. Konsumen menginginkan ketangguhan 4x4 namun dengan kenyamanan interior layaknya sedan mewah.

Mercedes-Benz melihat peluang ini. Mereka ingin menjadi merek premium pertama yang menawarkan paket lengkap tersebut. Dalam presentasi awalnya, X-Class dipasarkan sebagai kendaraan yang cocok untuk pemilik kapal pesiar yang perlu menarik trailer, atau keluarga perkotaan yang gemar bertualang di akhir pekan tanpa ingin kehilangan gengsi logo "Three-Pointed Star".

Kolaborasi Strategis dengan Aliansi Renault-Nissan

Membangun sebuah platform pikap dari nol membutuhkan biaya riset dan pengembangan yang masif. Untuk menekan biaya dan mempercepat waktu masuk ke pasar, Mercedes-Benz memanfaatkan kerja sama strategis dengan aliansi Renault-Nissan.

X-Class dibangun di atas platform Nissan Navara (NP300). Keputusan ini secara teknis sangat masuk akal karena Navara sudah terbukti tangguh dan menggunakan sistem suspensi belakang multi-link coil spring yang lebih nyaman dibandingkan per daun (leaf spring) konvensional pada pikap umumnya. Namun, keputusan meminjam "tulang" dari merek Jepang ini di kemudian hari menjadi pedang bermata dua bagi reputasi X-Class di mata konsumen purist.

Desain: Sentuhan Stuttgart pada Rangka Jepang

Meski berbagi platform dengan Nissan Navara, insinyur Mercedes-Benz melakukan upaya besar untuk memberikan identitas merek yang kuat. Perubahan yang dilakukan meliputi:

  1. Eksterior: Bagian depan sepenuhnya didesain ulang dengan lampu LED khas Mercedes, gril besar dengan logo bintang di tengah, dan bodi yang lebih lebar 50 mm dibandingkan Navara untuk memberikan kesan gagah.

  2. Interior: Dasbor X-Class dirancang agar menyerupai keluarga C-Class atau V-Class. Ventilasi udara berbentuk turbin, layar sistem hiburan tegak, dan penggunaan material soft-touch diterapkan untuk menutupi kesan mobil kerja.

  3. Kenyamanan Berkendara: Mercedes menyetel ulang suspensi, menambah material kedap suara, dan memperkuat sasis untuk memastikan pengalaman berkendara yang lebih tenang dan stabil sesuai standar mereka.

Varian Mesin: Dari Nissan hingga Jantung Mercedes

Pada awal peluncurannya, X-Class hadir dengan mesin diesel empat silinder 2.3 liter yang bersumber dari Nissan (X220d dan X250d). Hal ini menuai kritik karena performanya dianggap kurang mencerminkan jiwa Mercedes-Benz.

Menjawab kritik tersebut, pada 2018 diluncurkan X350d 4Matic. Varian ini adalah "X-Class yang sesungguhnya" karena menggunakan mesin 3.0L V6 Turbo Diesel asli buatan Mercedes-Benz yang menghasilkan tenaga $258$ PS dan torsi melimpah sebesar $550$ Nm. Dipadukan dengan transmisi otomatis 7G-Tronic Plus dan sistem penggerak semua roda tetap (permanent all-wheel drive), varian ini sempat menjadi pikap tercepat dan paling bertenaga di kelasnya.

Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan di Pasar

Meski tampil mengesankan di atas kertas, penjualan X-Class jauh dari target. Mercedes-Benz akhirnya menghentikan produksi X-Class pada Mei 2020. Beberapa faktor krusial yang melatarbelakangi kegagalan ini antara lain:

1. Harga yang Terlalu Tinggi

X-Class dibanderol dengan harga yang jauh lebih mahal dibandingkan kompetitor seperti Toyota Hilux, Ford Ranger, atau bahkan saudara kembarnya sendiri, Nissan Navara. Di pasar Eropa, selisih harganya bisa mencapai ribuan Euro. Bagi banyak konsumen, kelebihan kenyamanan yang ditawarkan tidak sebanding dengan selisih harga yang sangat mencolok tersebut.

2. Isu Identitas "Nissan Berbaju Mewah"

Konsumen di segmen premium sangat kritis terhadap nilai sebuah produk. Label sebagai "Nissan Navara yang lebih mahal" sangat sulit dilepaskan dari citra X-Class. Meskipun interior dan suspensinya berbeda, detail kecil seperti kunci kontak, beberapa tombol di konsol tengah, dan struktur rangka yang terlihat identik membuat pembeli merasa tidak mendapatkan eksklusivitas penuh dari merek Mercedes-Benz.

3. Tidak Masuk ke Pasar Amerika Serikat

Puncak keganjilan strategi X-Class adalah keputusannya untuk tidak menjual mobil ini di Amerika Serikat, pasar pikap terbesar di dunia. Mercedes-Benz merasa X-Class terlalu kecil untuk selera Amerika yang menyukai pikap ukuran penuh (full-size) seperti Ford F-150. Tanpa volume penjualan dari AS, sulit bagi model ini untuk mencapai skala ekonomi yang menguntungkan.

4. Persaingan Internal dengan SUV

Banyak konsumen setia Mercedes-Benz lebih memilih untuk membeli GLE atau G-Class jika mereka menginginkan kendaraan tangguh. SUV tersebut menawarkan kemewahan yang jauh lebih baik, teknologi lebih mutakhir, dan kenyamanan tanpa kompromi yang tidak bisa diberikan oleh sebuah pikap yang masih memiliki keterbatasan pada ruang kabin belakang.

Warisan dan Status Koleksi

Meski masa edarnya singkat, Mercedes-Benz X-Class meninggalkan jejak unik dalam sejarah otomotif. Mobil ini membuktikan bahwa ada batasan dalam strategi badge engineering untuk merek mewah. X-Class gagal sebagai volume seller, namun ia berhasil menjadi pionir yang mencoba mendefinisikan ulang apa itu kendaraan utilitas.

Saat ini, X-Class mulai menjadi incaran di pasar mobil bekas, terutama varian V6 (X350d). Kelangkaannya menjadikannya sebuah future classic. Bagi para penggemar modifikasi, X-Class sering dijadikan basis untuk modifikasi ekstrem, mulai dari gaya off-road berat hingga modifikasi mewah ala Brabus atau Carlex Design yang mengubah interiornya menjadi sekelas jet pribadi.