
Sistem Airbag, atau yang sering disebut SRS (Supplemental Restraint System), tidak bekerja sendirian. Ia adalah rangkaian sistem yang melibatkan sensor cerdas, modul komputer, dan reaksi kimia cepat. Berikut adalah urutan kejadian yang terjadi dalam waktu kurang dari 0,05 detik saat kecelakaan:
Deteksi Sensor: Saat mobil mengalami perlambatan mendadak (benturan keras), sensor accelerometer mengirimkan sinyal ke unit kontrol (ECU). Sensor ini sangat pintar; ia bisa membedakan antara benturan keras karena kecelakaan dengan guncangan akibat lubang di jalan.
Pemicu Kimia (Inflator): ECU mengirimkan sinyal listrik ke perangkat pemantik. Sinyal ini memicu reaksi kimia (biasanya menggunakan senyawa Sodium Azide) yang menghasilkan gas nitrogen panas dalam jumlah besar secara instan.
Mengembang (Deployment): Gas tersebut mengisi kantung kain nilon dengan tekanan tinggi sehingga airbag "meledak" keluar dari tempat persembunyiannya (setir atau dasbor).
Peredaman (Deflation): Begitu kepala atau tubuh Anda menyentuh kantung udara, gas akan segera keluar melalui lubang-lubang kecil di belakang kantung. Ini sangat penting agar tubuh Anda tidak terpental kembali ke belakang dan agar Anda tidak sesak napas.
Di tahun 2026, sistem airbag sudah semakin canggih dengan adanya Dual-Stage Airbags. Sistem ini bisa mengatur kekuatan ledakan berdasarkan berat badan penumpang dan posisi duduk. Jika benturannya kecil, airbag hanya mengembang sebagian agar tidak memberikan tekanan yang terlalu keras pada tubuh Anda.